ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN HIDROSEFALUS
Oleh
:
Akhmad
Zubaidi
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Hidrosefalus adalah
kelainan patologis otak
yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinal
dengan dan pernah
dengan tekanan intrakranial yang
meninggi, sehingga terdapat
pelebaran ventrikel (Darsono, 2005:209). Pelebaran
ventrikuler ini akibat
ketidakseimbangan antara
produksi dan absorbsi
cairan serebrospinal. Hidrosefalus
selalu bersifat sekunder, sebagai
akibat penyakit atau
kerusakan otak. Adanya
kelainankelainan tersebut menyebabkan
kepala menjadi besar
serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun (DeVito
EE et al, 2007:328). Secara keseluruhan, insidensi hidrosefalus antara 0,2-4
setiap 1000 kelahiran. Insidensi hidrosefalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada
tiap 1000 kelahiran dan 11%-43% disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan
bermakna insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras.
Hidrosefalus dapat terjadi
pada semua umur.
Pada remaja dan
dewasa lebih sering disebabkan
oleh toksoplasmosis. Hidrosefalus
infantil; 46% adalah akibat abnormalitas perkembangan otak,
50% karena perdarahan subaraknoid dan meningitis, dan kurang
dari 4% akibat
tumor fossa posterior. Secara internasional, insiden hidrosefalus yang didapat juga tidak diketahui jumlahnya. Sekitar 100.000
shunt yang tertanam setiap tahun di negara maju, tetapi informasi
untuk negara-negara lain
masih sedikit. Kematian
pada hidrosefalus yang tidak ditangani dapat terjadi oleh karena
herniasi tonsil sekunder yang dapat meningkatkan tekanan intracranial, kompresi
batang otak dan sistem pernapasan (Darsono, 2005:211).
Hidrosefalus
menjadi kasus yang banyak terjadi di perkotaan. Angka kejadian kasus hidrosefalus di RSUP Fatmawati di ruang
rawat bedah anak lantai III utara selama 3 bulan dari bulan
Januari-Maret 2013 adalah sebanyak 22 kasus. Penyebab hidrosefalus salah satunya adalah bakteri. Pada daerah
perkotaan yang padat penduduk, memungkinkan terjadi penyebaran bakteri dengan
cepat salah satunya bakteri yang menyebabkan hidrosefalus. Selain itu, pada
daerah perkotaan yang padat
penduduk masih banyak
penduduk yang tingkat kesejahteraannya
rendah. Tingkat kesejahteraan yang rendah dapat mempengaruhi
nutrisi pada ibu hamil. Nutrisi
pada ibu hamil juga mrmpengaruhi perkembangan janin. Pada ibu dengan
nutrisi yang kurang, maka perkembangan janin pun akan
terganggu sehingga dapat menimbulkan kelainan kongenital seperti hidrosefalu.
B.
Tujuan
Penulisan
1. Tujuan Umum
-
Untuk melengkapi
tugas individu keperawatan anak
-
Untuk mengetahui
asuhan keperawatan anak dengan hidrosefalus
2. Tujuan Khusus
-
Mahasiswa mengetahui
Definisi Hidrosefalus
-
Mahasiswa mengetahui
Etiologi Hidrosefalus
-
Mahasiswa mengetahui
Klasifikasi Hidrosefalus
-
Mahasiswa
mengetahui Patofisiologi Hidrosefalus
-
Mahasiswa mengetahui
Penatalaksanaan Hidrosefalus
-
Mahasiswa
Mengetahui Diagnosa Keperawatan pada Pasien Anak dengan Hidrosefalus.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Defnisi
Hidrosefalus adalah
kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal
dengan dan pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat
pelebaran ventrikel (Darsono, 2005:209
Pelebaran ventrikuler
ini akibat ketidakseimbangan antara
produksi dan absorbsi
cairan serebrospinal. Hidrosefalus
selalu bersifat sekunder, sebagai
akibat penyakit atau
kerusakan otak. Adanya kelainan-kelainan tersebut
menyebabkan kepala menjadi
besar serta terjadi pelebaran
sutura-sutura dan ubun-ubun
(DeVito EE et al, 2007:328).
B.
Etiologi
Hidrosefalus terjadi
bila terdapat penyumbatan aliran cairan serebrospinal (CSS) pada salah satu
tempat antara tempat pembentukan CSS dalam
sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarakhnoid. Akibat
penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya (Allan H. Ropper, 2005).
Teoritis pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorbsi yang
abnormal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam klinik sangat
jarang terjadi. Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi
dan anak (Allan H. Ropper, 2005:360) :
1. Kelainan
bawaan (kongenital)
a. Stenosis
akuaduktus sylvii
b. Spina
bifida dan kranium bifida
c. Sindrom
Dandy-Walker
d. Kista
araknoid dan anomali pembuluh darah
2. Infeksi
Akibat infeksi dapat
timbul perlekatan meningen. Secara patologis terlihat penebalan jaringan
piamater dan arakhnoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Penyebab lain
infeksi adalah toxoplasmosis.
3. Neoplasma
Hidrosefalus oleh
obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. Pada anak
yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel
IV atau akuaduktus Sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal
dari serebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan
kraniofaringioma.
4. Perdarahan
Perdarahan sebelum dan
sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada
daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah
itu sendiri.
C.
Klasifikasi
Atau Stadium
1. Hidrocephalus
Non – komunikasi (nonkommunicating hydrocephalus)
Biasanya diakibatkan obstruksi dalam
sistem ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF. Kondisi tersebut sering
dijumpai pada orang lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi
congenital pada sistem saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space
occuping lesion) ataupun bekas luka. Pada klien dewasa dapat terjadi
sebagai akibat dari obstruksi lesi pada sistem ventricular atau bentukan
jaringan adhesi atau bekas luka didalam sistem di dalam sistem ventricular.
Pada klien dengan garis sutura yag berfungsi atau pada anak–anak dibawah usia
12–18 bulan dengan tekanan intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda–tanda
dan gejala–gejala kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak–anak yang garis
suturanya tidak bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan
pembesaran kepala.
2. Hidrosefalus
Komunikasi (Kommunicating hidrocepalus)
Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada
aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam
jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang
dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan
darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan
tanda dan gejala–gejala peningkatan ICP).
3. Hidrosefalus
Bertekan Normal (Normal Pressure Hidrocephalus)
Di tandai pembesaran sister basilar dan
fentrikel disertai dengan kompresi jaringan serebral, dapat terjadi atrofi
serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal, gejala–gejala dan tanda–tanda
lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia urine.
Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau
thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun) ada
kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.
4.
HIDROCEPHALUS PADA ANAK
ATAU BAYI
Hidrosephalus pada anak atau bayi pada
dasarnya dapat di bagi dua (2 ) :
a.
Kongenital
Merupakan Hidrosephalus yang sudah
diderita sejak bayi dilahirkan, sehingga;
1)
Pada saat lahir keadaan
otak bayi terbentuk kecil
2) Terdesak
oleh banyaknya cairan didalam kepala dan tingginya tekanan intrakranial sehingga
pertumbuhan sel otak terganggu.
b.
Di dapat
Bayi
atau anak mengalaminya pada saat sudah besar, dengan penyebabnya adalah
penyakit – penyakit tertentu misalnya trauma, TBC yang menyerang otak dimana
pengobatannya tidak tuntas. Pada hidrosefalus di dapat pertumbuhan otak sudah
sempurna, tetapi kemudian terganggu oleh sebab adanya peninggian tekanan
intrakranial. Sehingga perbedaan hidrosefalus kongenital dengan di dapat
terletak pada pembentukan otak dan pembentukan otak dan kemungkinan prognosanya.
Penyebab
sumbatan aliran CSF yang sering terdapat pada bayi dan anak – anak ;
1)
Kelainan kongenital
2) Infeksi
di sebabkan oleh perlengketan meningen akibat infeksi dapat terjadi pelebaran
ventrikel pada masa akut ( misal ; Meningitis )
3) Neoplasma
4) Perdarahan
, misalnya perdarahan otak sebelum atau sesudah lahir
Berdasarkan
letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi dalam dua
bagianyaitu :
a) Hidrosefalus
komunikan
Apabila obstruksinya terdapat pada
rongga subaracnoid, sehingga terdapat aliran bebas CSF dal;am sistem ventrikel
sampai ke tempat sumbatan.
b) Hidrosefalus
non komunikan
Apabila obstruksinya terdapat terdapat
didalam sistem ventrikel sehingga menghambat aliran bebas dari CSF. Biasanya
gangguan yang terjadi pada hidrosefalus kongenital adalah pada sistem vertikal
sehingga terjadi bentuk hidrosefalus non komunikan.
D.
Patofisiologi
Dikarenakan kondisi
CSS yang tidak
normal, hidrosefalus secara teoritis terjadi sebagai akibat dari
tiga mekanisme yaitu produksi likuor yang
berlebihan, peningkatan resistensi
aliran likuor, dan
peningkatan tekanan sinus venosa.
Konsekuensi tiga mekanisme
di atas adalah peningkatan tekanan intrakranial (TIK)
sebagai upaya mempertahankan keseimbangan
sekresi dan absorbsi.
Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup
rumit dan berlangsung
berbeda-beda tiap saat
selama perkembangan
hidrosefalus. Dilatasi ini
terjadi sebagai akibat
dari kompresi sistem serebrovaskuler, redistribusi dari likuor
serebrospinalis atau cairan ekstraseluler, perubahan
mekanis dari otak,
efek tekanan denyut likuor
serebrospinalis, hilangnya jaringan otak, dan pembesaran volume tengkorak
karena regangan abnormal sutura kranial. (Darsono, 2005:212).
Produksi likuor
yang berlebihan disebabkan
tumor pleksus khoroid. Gangguan aliran
likuor merupakan awal
dari kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan
resistensi yang disebabkan
gangguan aliran akan meningkatkan
tekanan likuor secara
proporsional dalam upaya mempertahankan reasorbsi
yang seimbang. Peningkatan
tekanan sinus vena mempunyai
dua konsekuensi, yaitu
peningkatan tekanan vena kortikal
sehingga menyebabkan volume
vaskuler intrakranial
bertambah dan peningkatan
tekanan intrakranial sampai
batas yang dibutuhkan untuk
mempertahankan aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang
relatif tinggi. Konsekuensi klinis
dari hipertensi vena
ini tergantung dari komplians tengkorak (Darsono, 2005:212).
E.
Pathway
F.
Manifestasi
Klinis
Tanda awal
dan gejala hidrosefalus
tergantung pada derajat ketidakseimbangan kapasitas
produksi dan resorbsi
CSS (Darsono, 2005). Gejala-gejala
yang menonjol merupakan
refleksi adanya hipertensi
intrakranial. Manifestasi
klinis dari hidrosefalus pada anak
dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:
1.
Hidrosefalus terjadi
pada masa neonatus
Meliputi pembesaran
kepala abnormal, gambaran tetap hidrosefalus kongenital dan pada masa bayi. Lingkaran kepala neonatus
biasanya adalah 35-40cm, dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah
selama tahun pertama kehidupan. Kranium
terdistensi dalam semua arah,
tetapi terutama pada
daerah frontal. Tampak
dorsum nasi lebih besar dari biasa. Fontanel terbuka dan tegang,
sutura masih terbuka bebas. Manifestasi
klinis dari hidrosefalus pada anak dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:
1. Hidrosefalus
terjadi pada masa neonatus
Meliputi pembesaran
kepala abnormal, gambaran tetap hidrosefalus kongenital dan pada masa bayi. Lingkaran kepala neonatus
biasanya adalah 35-40cm, dan pertumbuhan
ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama kehidupan. Kranium terdistensi dalam semua
arah, tetapi terutama pada daerah
frontal. Tampak dorsum nasi lebih besar dari biasa. Fontanel terbuka
dan tegang, sutura masih terbuka bebas. Tulang-tulang
kepala menjadi sangat tipis. Vena-vena di sisi
samping kepala tampak melebar dan berkelok. (Peter Paul Rickham, 2003).
2.
Hidrosefalus terjadi
pada akhir masa kanak-kanak
Pembesaran kepala
tidak bermakna, tetapi
nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi intrakranial. Lokasi nyeri kepala
tidak khas. Dapat disertai keluhan penglihatan ganda (diplopia) dan jarang
diikuti penurunan visus. Secara umum gejala
yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus di bawah usia
dua tahun adalah pembesaran abnormal yang progresif dari ukuran kepala.
Makrokrania mengesankan sebagai salah satu tanda bila ukuran lingkar kepala
lebih besar dari dua deviasi
standar di atas
ukuran normal. Makrokrania
biasanya disertai empat gejala
hipertensi intrakranial lainnya yaitu fontanel anterior yang sangat tegang,
sutura kranium tampak atau teraba melebar, kulit kepala licin mengkilap
dan tampak vena-vena superfisial menonjol,
dan fenomena ‘matahari tenggelam’ (sunset phenomenon). Gejala hipertensi intrakranial
lebih menonjol pada anak yang lebih
besar dibandingkan dengan bayi. Gejalanya mencakup: nyeri kepala,
muntah, gangguan kesadaran, gangguan
okulomotor, dan pada kasus yang telah lanjut ada gejala gangguan
batang otak akibat
herniasi tonsiler (bradikardia, aritmia respirasi). (Darsono,
2005:213)
Kepala
bisa berukuran normal dengan fontanela anterior menonjol, lama kelamaan menjadi besar dan mengeras menjadi
bentuk yang karakteristik oleh
peningkatan dimensi ventrikel lateral dan anterior – posterior diatas
proporsi ukuran wajah dan bandan bayi. Puncak orbital tertekan ke bawah dan
mata terletak agak ke bawah dan ke luar dengan penonjolan putih
mata yang tidak
biasanya. Tampak adanya
dsitensi vena superfisialis dan kulit kepala menjadi
tipis serta rapuh.Uji
radiologis : terlihat
tengkorak mengalami penipisan dengan sutura yang terpisah – pisah dan pelebaran
vontanela. Ventirkulogram menunjukkan pembesaran pada sistem ventrikeL. CT scan dapat menggambarkan sistim ventrikuler
dengan penebalan jaringan dan adanya massa pada ruangan occuptional. Pada bayi terlihat lemah
dan diam tanpa aktivitas normal. Proses ini
pada tipe communicating dapat
tertahan secara spontan atau dapat terus dengan menyebabkan atrofi
optik, spasme ekstremitas, konvulsi, malnutrisi dan kematian, jika anak hidup
maka akan terjadi retardasi mental dan fisik (Darsono, 2005:213).
Tanda
dan gejala hidrosefalus pada bayi adalah kepala menjadi makin besar dan akan terlihat pada umur 3 tahun;
keterlambatan penutupan fontanela anterior, sehingga fontanela menjadi tegang,
keras, sedikit tinggi dari permukaan
tengkorak. Tanda – tanda
peningkatan tekanan intracranial antara lain muntah, gelisah, menangis dengan
suara tinggi, peningkatan sistole pada tekanan darah, penurunan nadi, peningkatan pernafasan dan tidak
teratur, perubahan pupil, lethargi –
stupor, peningkatan tonus otot ekstrimitas, dahi menonjol bersinar atau mengkilat
dan pembuluh-pembuluh darah terlihat
jelas alis mata dan bulu mata ke atas, sehingga sclera telihat seolah-olah di
atas iris, bayi tidak dapat melihat ke atas, “ sunset eyes”, strabismus,
nystagmus, atropi optic, dan bayi sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke
atas.
Pada
anak yang telah menutup suturanya terjadi tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti nyeri kepala,
muntah, letargi, lelah, apatis, perubahan
personalitas, ketegangan dari sutura cranial dapat terlihat pada anak
berumur 10 tahun, penglihatan ganda,
kontruksi penglihatan perifer, strabismus, dan perubahan pupil.
G.
Penatalaksanaan
Penanganan hidrosefalus
masuk pada katagori
”live saving and
live sustaining” yang berarti
penyakit ini memerlukan diagnosis dini yang dilanjutkan dengan tindakan
bedah secepatnya. Keterlambatan akan menyebabkan kecacatan dan
kematian sehingga prinsip
pengobatan hidrosefalus harus dipenuhi yakni: mengurangi produksi cairan serebrospinal
dengan merusak pleksus koroidalis dengan tindakan reseksi atau pembedahan, atau
dengan obat azetasolamid (diamox) yang menghambat pembentukan
cairan serebrospinal, memperbaiki hubungan antara tempat produksi caira
serebrospinal dengan tempat absorbsi, yaitu menghubungkan
ventrikel dengan subarachnoid,
dan pengeluaran cairan serebrospinal ke dalam organ ekstrakranial,
yakni: drainase ventrikule-peritoneal, drainase lombo-peritoneal, drainase
ventrikulo-pleural, drainase
ventrikule-uretrostomi, dan drainase ke dalam anterium mastoid. Cairan
serebrospinal dialirkan ke dalam vena
jugularis dan jantung melalui
kateter yang berventil
(Holter Valve/katup Holter) yang memungkinkan
pengaliran cairan serebrospinal ke satu arah.
Cara ini merupakan cara yang dianggap terbaik namun, kateter harus diganti
sesuai dengan pertumbuhan anak dan harus diwaspadai terjadinya infeksi sekunder
dan sepsis. Tindakan bedah
pemasangan selang pintasan atau drainase dilakukan setelah diagnosis lengkap dan pasien telah di bius total.
Dibuat sayatan kecil didaerah kepala dan dilakukan pembukaan tulang tengkorak
dan selaput otak, lalu selang pintasan dipasang.
Disusul kemudian dibuat sayatan kecil di daerah perut, dibuka rongga perut lalu ditanam selang pintasan, antara ujung
selang di kepala dan
perut dihubungakan dengan
selang yang ditanam di bawah kulit hingga tidak terlihat
dari luar. Pengobatan modern atau canggih dilakukan dengan bahan shunt atau
pintasan jenis silicon yang awet, lentur, tidak mudah putus.
Ada
2 macam terapi pintas/”shunting” yaitu eksternal dengan cara CSS dialirkan dari ventrikel
ke dunia luar, dan bersifat hanya sementara. Misalnya: pungsi lumbal yang
berulang-ulang untuk terapi hidrosefalus tekanan normal. Secara internal, CSS
dialirkan dari ventrikel ke dalam anggota tubuh lain dengan cara:
ventrikulo-sisternal, CSS dialirkan ke sisterna magna (Thor-Kjeldsen);
ventrikulo-atrial, CSS dialirkan ke sinus
sagitalis superior; ventrikulo-bronkhial, CSS dialirkan ke bronkus;
ventrikulo-mediastinal, CSS dialirkan ke mediastinum; ventrikulo-peritoneal,
CSS dialirkan ke rongga peritoneum.
“Lumbo Peritoneal Shunt” dengan cara CSS dialirkan dari Resessus Spinalis Lumbalis ke rongga
peritoneum dengan operasi terbuka
atau dengan jarum Touhy secara
perkutan.
H.
Pengkajian
Fokus
1. Anamnese
a. Riwayat
penyakit / keluhan utama
Muntah,
gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan
pupil, kontriksi penglihatan perifer.
b. Riwayat
Perkembangan
Kelahiran
: prematur. Lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir menangis keras atau
tidak.
Kekejangan:
Mulut dan perubahan tingkah laku.
Apakah
pernah terjatuh dengan kepala terbentur.
Keluhan
sakit perut.
2. Pemeriksaan
Fisik
a. Inspeksi
:
1) Anak
dapat melioha keatas atau tidak.
2) Pembesaran
kepala.
3) Dahi
menonjol dan mengkilat serta pembuluh dara terlihat jelas.
b. Palpasi
1) Ukur
lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
2) Fontanela
: Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga fontanela tegang, keras
dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
c. Pemeriksaan
Mata
1) Akomodasi.
2) Gerakan
bola mata.
3) Luas
lapang pandang
4) Konvergensi.
5) Didapatkan
hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas.
6) Stabismus,
nystaqmus, atropi optic.
3. Observasi
Tanda –tanda vital
Didapatkan data – data sebagai berikut :
a. Peningkatan
sistole tekanan darah.
b. Penurunan
nadi / Bradicardia.
c. Peningkatan
frekwensi pernapasan.
4. Diagnosa
Klinis :
1) Transimulasi
kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan lokalisasi dari pengumpulan cairan banormal.
( Transsimulasi terang )
2) Perkusi
tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi “ Crakedpot “ (Mercewen’s Sign)
3) Opthalmoscopy
: Edema Pupil.
4) CT
Scan Memperlihatkan (non – invasive) type hidrocephalus dengan nalisisi
komputer.
5) Radiologi
: Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial.
Selain
dari gejala-gejala klinik, keluhan pasien maupun dari hasil pemeriksaan
fisik dan psikis, untuk keperluan
diagnostik hidrosefalus dilakukan pemeriksaan pemeriksaan penunjang yaitu:
1) Rontgen
foto kepala
Dengan prosedur ini
dapat diketahui:
a) Hidrosefalus
tipe kongenital/infantile, yaitu: ukuran kepala, adanya pelebaran sutura, tanda-tanda peningkatan tekanan
intrakranial kronik berupa imopressio digitate dan erosi prosessus klionidalis
posterior.
b) Hidrosefalus
tipe juvenile/adult oleh karena sutura telah menutup maka dari foto rontgen kepala diharapkan adanya
gambaran kenaikan tekanan intrakranial.
2) Transimulasi
Syarat untuk
transimulasi adalah fontanela masih terbuka, pemeriksaan ini dilakukan dalam ruangan
yang gelap setelah pemeriksa beradaptasi selama 3 menit. Alat yang dipakai
lampu senter yang dilengkapi dengan rubber adaptor. Pada hidrosefalus, lebar
halo dari tepi sinar akan terlihat lebih lebar 1-2 cm.
3) Lingkaran
kepala
Diagnosis hidrosefalus
pada bayi dapat dicurigai, jika penambahan lingkar kepala
melampaui satu atau lebih
garis-garis kisi pada chart (jarak antara dua garis kisi 1 cm) dalam
kurun waktu 2-4 minggu. Pada anak yang besar lingkaran kepala dapat normal hal
ini disebabkan oleh karena hidrosefalus terjadi setelah penutupan suturan
secara fungsional.
I.
Diagnosa
Keperawatan
1.
Pre Operatif
a) Gangguan
rasa nyaman: Nyeri sehubungan dengan meningkatkanya tekanan intrakranial
b) Kecemasan
Orang tua sehubungan dengan keadaan anak yang akan mengalami operasi.
c) Potensial
Kekurangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan intake yang kurang diserta
muntah
2.
Post – Operatif
a) Gangguan
rasa nyaman : Nyeri sehubungan dengan tekanan pada kulit yang dilakukan shunt.
b) Resiko
tinggi terjadinya gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan
dengan intake yang tidak adekuat.
c) Resiko
tinggi terjadinya infeksi sehubungan dengan infiltrasi bakteri melalui shunt.
d) Resiko
tinggi terjadi kerusakan integritas kulit dan kontraktur sehubungan dengan
imobilisasi
J.
Fokus
Intervensi dan Rasional
1.
Pre Operatif
a) Gangguan
rasa nyaman: Nyeri sehubungan dengan meningkatkanya tekanan intrakranial.
Data Indikasi : Adanya
keluahan Nyeri Kepala, Meringis atau menangis,
gelisah, kepala membesar
Tujuan ; Klien akan
mendapatkan kenyamanan, nyeri kepala berkurang
Intervensi :
1) Jelaskan
Penyebab nyeri.
2) Atur
posisi Klien
3) Ajarkan
tekhnik relaksasi
4) Kolaborasi
dengan tim medis untuk pemberian Analgesik
5) Persapiapan
operasi
b) Kecemasan
Orang tua sehubungan dengan keadaan anak yang akan mengalami operasi.
Data Indikasi :
Ekspresi verbal menunjukkan kecemasan akan keadaan anaknya.
Tujuan : Kecemasan
orang tua berkurang atau dapat diatasi.
Intervensi :
1) Dorong
orang tua untuk berpartisipasi sebanyak mungkin dalam merawat anaknya.
2) Jelaskan
pada orang tua tentang masalah anak terutama ketakutannya menghadapi operasi
otak dan ketakutan terhadap kerusakan otak.
3) Berikan
informasi yang cukup tentang prosedur operasi dan berikan jawaban dengan benar
dan sejujurnya serta hindari kesalahpahaman.
c) Potensial
Kekurangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan intake yang kurang diserta
muntah
Data
Indikasi ; keluhan Muntah, Jarang minum.
Tujuan
: Tidak terjadi kekurangan cairan dan elektrolit.
Intervensi
:
1) Kaji
tanda – tanda kekurangan cairan
2) Monitor
Intake dan out put
3) Berikan
therapi cairan secara intavena.
4) Atur
jadwal pemberian cairan dan tetesan infus.
5) Monitor
tanda – tanda vital.
2.
Post – Operatif
a.
Gangguan rasa nyaman :
Nyeri sehubungan dengan tekanan pada kulit yang dilakukan shunt.
Data
Indikasi ; adanya keluhan nyeri, Ekspresi non verbal adanya nyeri.
Tujuan
: Rasa Nyaman Klien akan terpenuhi, Nyeri berkurang
Intervensi
:
1) Beri
kapas secukupnya dibawa telinga yang dibalut.
2) Aspirasi
shunt (Posisi semi fowler), bila harus memompa shunt, maka pemompaan dilakukan
perlahan – lahan dengan interval yang telah ditentukan.
3) Kolaborasi
dengan tim medis bila ada kesulitan dalam pemompaan shunt.
4) Berikan
posisi yang nyama. Hindari posisi p[ada tempat dilakukan shunt.
5) Observasi
tingkat kesadaran dengan memperhatikan perubahan muka (Pucat, dingin,
berkeringat)
6) Kaji
orisinil nyeri : Lokasi dan radiasinya
b. Resiko
tinggi terjadinya gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan
intake yang tidak adekuat.
Data
Indikasi ; Adanya keluhan kesulitan dalam mengkonsumsi makanan.
Tujuan
: Tidak terjadi gangguan nutrisil.
Intervensi
:
1) Berikan
makanan lunak tinggi kalori tinggi protein.
2) Berikan
klien makan dengan posisi semi fowler dan berikan waktu yang cukup untuk
menelan.
3) Ciptakan
suasana lingkungan yang nyaman dan terhindar dari bau – bauan yang tidak enak.
4) Monitor
therapi secara intravena.
5) Timbang
berta badan bila mungkin.
6) Jagalah
kebersihan mulut ( Oral hygiene)
7) Berikan
makanan ringan diantara waktu makan
c. Resiko
tinggi terjadinya infeksi sehubungan dengan infiltrasi bakteri melalui shunt.
Tujuan
: Tidak terjadi infeksi / Klien bebas dari infeksi.
Intervensi
:
1) Monitor
terhadap tanda – tanda infeksi.
2) Pertahankan
tekhnik kesterilan dalam prosedur perawatan
3) Cegah
terhadap terjadi gangguan suhu tubuh.
4) Pertahanakan
prinsiup aseptik pada drainase dan ekspirasi shunt.
d. Resiko
tinggi terjadi kerusakan integritas kulit dan kontraktur sehubungan dengan
imobilisasi.
Tujuan ; Pasien bebas dari kerusakan integritas
kulit dan kontraktur.
Intervensi :
1) Mobilisasi
klien (Miki dan Mika) setiap 2 jam.
2) Obsevasi
terhadap tanda – tanda kerusakan integritas kulit dan kontrkatur.
3) Jagalah
kebersihan dan kerapihan tempat tidur.
4) Berikan
latihan secara pasif dan perlahan – lahan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar