ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN THALASEMIIA

.
Oleh
:
Akhmad
Zubaidi
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Thalasemia
adalah suatu gangguan darah yang diturunkan yang ditandai oleh defisiensi
produksi rantai globin pada hemoglobin. Rund (2005 dalam Muncie and Campbel
2009) menyatakan bahwa ± 5% dari populasi dunia mempunyai variasi rantai
globin, namun hanya 1,7% yang mempunyai karakter alpha atau beta thalasemia.
Kasus thalasemia dapat terjadi pada laki – laki atau perempuan dan terjadi
sebanyak 4,4 dari 10.000 kelahiran hidup. Penderita thalasemia diperkirakan
mencapai 500 orang pada tahun 1994, meningkat 3 kali lipat pada tahun 2008
menjadi 1500 orang dan diperkirakan akan meningkat drastis menjadi 22.500 orang
pada tahun 2020 (Wibowo,2010). Data terakhir dari World Heath Organization (WHO) menyatakan bahwa sebanyak 4,5% atau
sekitar 250 juta penduduk dunia membawa gen thalasemia, dan dari 250 juta
penduduk tersebut sebanyak 80 – 90 membawa gen beta thalasemia
Di Indonesia frekuensi pembawa gen
penyakit ini sekitar 5% (Wibowo,2010) sehingga diperkirakan akan ada 5000 kasus
baru per tahun. Pada tahun 2008, Pusat Talasemia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
mencatat jumlah penderita talasemia dari tahun 1993-2008 sebanyak 1.412 kasus .
Thalasemia merupakan kasus keenam terbanyak yang dirawat di RS Cipto
Mangunkusumo pada tahun 2010, dan merupakan kasus kunjungan rawat sehari (one day care) kedua terbanyak setelah leukimia. Selama 2010
ditemukan sebanyak 79 pasien thalasemia yang dirawat inap dan dan 72 pasien one day care (data rekam medik pasien
Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM, 2010).
B.
Tujuan
-
Mengetahui konsep
penyakit thalasemia
-
Mengetahui asuhan
keperwatan pada anak dengan thalasemia
BAB II
TINJAUAN TEORI
1.
Definisi
Thalasemia merupakan penyakit
anemia hemolitik herediter yang diturunkan secara resesif. Ditandai oleh
defisiensi produksi globin pada hemoglobin. dimana terjadi kerusakan sel darah
merah di dalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit menjadi pendek (kurang
dari 100 hari) (Yuwono, 2012).
Thalasemia merupakan penyakit
kongenital herediter yang
diturunkan secara autosomal berdasarkan kelainan haemoglobin, dimana
satu atau dua rantai Hb kurang atau tidak
terbentuk secara sempurna sehingga terjadi anemia hemolitik. Kelainan hemolitik
ini mengakibatkan kerusakan pada sel darah merah didalam pembuluh darah
sehingga umur eritrosit menjadi pendek (Indanah, 2010).
Thalasemia adalah
penyakit genetic yang
diturunkan secara autosomal resesif menurut hukum mendel dari
orang tua kepada anak - anaknya yang dapat menunjukkan gejala klinis dari yang
paling ringan (bentuk heterozigot) yang disebut
thalasemia minor atau trait (carrier
= pengembang sifat) hingga yang paling
berat (bentuk homozigot) yang disebut thalasemia
mayor. Bentuk heterozigot
diturunkan oleh salah satu orang
tua yang mengidap thalasemia, sedangkan bentuk homozigot diturunkan oleh kedua
orang tuanya yang mengidap penyakit thalasemia (Aru W. Sudoyo, 2009).
Thalasemia merupakan penyakit
kelainan darah bawaan yang ditandai dengan defisiensi produksi jumlah rantai
globin yang spesifik dalam hemoglobin (Hockenberry & Wilson, 2009)
Thalasemia adalah sekelompok
gangguan darah yang diturunkan, yang disebabkan adanya defek sintesis satu atau
lebih rantai hemoglobin (Muncie & Campbell, 2009 )
Jadi
kesimpulannya thalasemia adalah penyakit genetik yang diturunkan secara
autosomal resesif yang disebabkan oleh kelainan pada sintesis hemoglobin yang menyebabkan umur eritrosit
menjadi pendek yaitu kurang dari 100 hari.
2.
Etiologi
Thalasemi
adalah penyakit herediter yang diturunkan orang tua pada anaknya. Anak yang
mewarisi gen thalasemia dari salah satu orang tua dan gen normal dari orang tua
yang lain adalah seorang pembawa (carrier).
Anak yang mewarisi gen thalasemia dari kedua orang tuanya akan menderita
thalasemia sedang sampai berat(Muncie & Campbell, 2009). Jadi, thalasemia
disebabkan karena gen yang diturunkan oleh salah satu orang tua maupun kedua
orang tua kepada anaknya yang menyebabkan adanya kelainan pada sintesis
hemoglobin sehingga umur eritrosit menjadi lebih pendek.
3.
Patofisiologi
Sel
darah merah (SDM) mempunyai fungsi utama untuk mnyediakan oksigen bagi jaringan
tubuh dan hal ini dimungkinkan karena bentuk, ukuran dan strukturnya. Kemampuan
SDM untuk menyuplai oksigen didukung oleh adanya hemoglobin (Hb) yang berlimpah
dalam darah, dimana dalam sebuah SDM terdapat 300 molekul hemoglobin. Dalam
satu hemoglobin terdapat empat rantai polipeptida (dua rantai alpha dan dua
rantai beta), yang didalam nya terdapat empat kompleks heme dengan iakatan besi
(Fe), dan empat sisi pengikat oksigen (Potts & Mandleco, 2007).
Pada
thalasemia terjadi gangguan sintesis rantai hemoglobin, yaitu rantai alpha atau
rantai beta (berdasarkan rantai globin yang terkena) dan mayor atau minor
tergantung pada banyaknya jumlah gen yang mengalami gangguan. Dari semua jenis
thalasemia, beta thalasemia mayor adalah yang paling sering dialami oleh anak –
anak (Kilne, 2002). Pada beta thalasemia mayor (sering disebut thalasemia
mayor) terdapat defisiensi parsial atau total sintesis rantai beta molekul
hemoglobin. Sebagai akibatnya terdapat kompensasi berupa peningkatan sintesis
rantai alpha, sementara produksi rantai gama tetap aktif sehingga akan
menimbulkan pembentukan hemoglobin yang tidak sempurna (cacat). Rantai
polipeptida yang tidak seimbang ini sangat tidak stabil dan ketika terurai akan
merusak sel darah merah (Hemolisis)
sehingga terjadi anemia berat. Untuk mengimbangi proses hemolisis, sum sum
tulang akan membetuk eritrosit dengan jumlah dengan jumlah yang sangat
berlimpah kecuali jika fungsi sum sum tulang disupresi melalui terapi transfusi
(Hockenberry & Wilson, 2009). Zat besi yang berlebihan akibat hemolisis sel
darah merah tambahan dari tranfusi dan akibat penghancuran sel - sel darah merah cacat dengan cepat akan
tersimpan dalam organ organ tubuh yang lain (Hemosiderosis).
4.
Pathway

5.
Manifestasi
Klinik
Pada
penderita thalasemia, menurut James dan Ashwill (2007) akan ditemukan beberapa
kelainan diantaranya :
a. Anemia
dengan gejala seperti pucat, demam tanpa penyebab yang jelas, tidak nafsu
makan, infeksi yang berulang dan pembesaran hati/limpa
b. Anemia
progesif yang ditandai dengan hipoksia kronis seperti nyeri kepala, nyeri
precordial, tulang, penurunan toleransi terhadap latihan, lesu, dan anorexia.
c. Perubahan
pada tulang, tulang akan tulang akan mengalami penipisan dan kerapuhan akibat sum
sum tulang yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hemoglobin dalam sel
darah. Hal ini terjadi pada tulang kepala frontal, parietal, molar yang menjadi
lebih menonjol, batang hidung menjadi lebih datar atau masuk kedalam dengan
tulang pipi yang menonjol. Keadaan ini disebut facies cooley, yang merupakan ciri khas thalasemia mayor.
6.
Pemeriksaan
Penunjang
Untuk
memastikan diagnosa thalasemia maka pemeriksaan yang perlu dilakukan
diantaranya :
a. Laboratorium
meliputi hematologi rutin (mengetahui kadar Hb dan ukuran sel sel darah),
gambaran darah tepi (melihat bentuk, warna , dan kematangan sel sel darah),
feritin/serum iron (melihat status
atau kadar besi), dan analisis hemoglobin (menegakkan diagnosis dan menentukan
jenis thalasemia).
b. Pemeriksaan
DNA, untuk mendiagnosis kelainan genetik prenatal pada janin.
c. Bone Marrow Punction (BMP),
akan memperlihatkan perubahan sel sel darah berdasrkan jumlah, ukuran, dan
bentuk yang akan membantu membedakan jenis thalasemia yang diderita pasien.
7.
Program
Terapi
a. Tranfusi
Darah
Transfusi darah dilakukan secara teratur
dan rutin, untuk menjaga kesehatan dan stamina penderita thalasemia, sehingga
penderita tetap dapat beraktifitas. Transfusi akan memberi energi baru kepada
penderita karena darah dari transfusi mempunyai kadar hemoglobin yang normal
yang mampu memenuhi kebutuhan tubuh penderita. Transfusi dilakukan apabila
jumlah hemoglobin penderita <7 mg/dL (Dubey, parakh & Dublish 2008), dan
dilakukan untuk mempertahankan kadar hemoglobin diatas 9,5 mg/dL (Hockenberry
& Wilson, 2009). Durasi waktu antar transfusi darah antara 2-4 minggu,
tergantung pada berat badan anak, usia, dan aktifitas anak. Tranfusi darah yang
teratur dilakukan untuk mempertahankan hemoglobin normal atau mendekati normal.
Terapi ini diberikan jika kadar hemoglobin < 6 mg/dl dalam interval 1 bulan
selama 3 bulan berturut turut. Tehnik yang dipakai adalah hipertranfusi,
yaitu untuk mencapai kadar hemoglobin diatas 10 gr/dl dengan jalan memberikan
tranfusi 2 - 4 unit darah setiap 4 - 6
minggu, sehingga produksi hemoglobin abnormal ditekan. Tindakan ini bertujuan mengurangi komplikasi
anemia dan eritropoesis, memaksimalkan
pertumbuhan dan perkembangan serta memperpanjang ketahanan hidup (Indanah, 2010).
b. Konsumsi
Obat Kelasi Besi (Iron Chelator)
Obat kelasi besi diberikan untuk
mengeluarkan zat besi dari tubuh penderita akibat transfusi darah yang teratur
dan rutin dalam jangka waktu yang lama. Obat kelasi besi yang umum digunakan
adalah desferal (Morris, Singer & Walters, 2006 dalam Hockenberry &
Wilson, 2009), yang diberikan secara subkutan (dibawah kulit) bersamaan atau
setelah tranfusi darah. Iron chelator diberikan untuk mencegah penumpukan zat
besi (hemocromatosis) akibat tranfusi dan akibat patogenesis dari thalasemia
sendiri serta mengontrol kadar besi didalam tubuh secara optimal (Indanah, 2010). Iron chelator yang diberikan berupa
desferoksamin (desferal®), berfungsi
untuk membantu mengekresikan besi dalam urin. Desferoksamin diberikan dengan infusion bag dengan 1 – 2g
tiap unit darah yang ditranfusikan atau melalui infus subcutan 20 – 4
mg/kg dalam 8 – 12 jam, 5 – 7 hari seminggu. Terapi ini diberikan setelah
tranfusi darah 10 – 15 unit. Besi yang terkelasi oleh desferoksamin diekresikan
melalui urin dan feses. Pemberian
Vitamin C (200mg/hari) membantu meningkatkan eksresi besi oleh desferoksamin. Harapan hidup pasien thalasemia
akan meningkat jika pasien patuh terhadap terapi iron chelator ini. Selain harganya
yang mahal, terapi ini member efek
samping pada pasien seperti bengkak, gatal, tuli, kerusakan pada retina,
kelainan tulang dan retardasi pertumbuhan (Indanah, 2010).
c. Transplantasi
Sum Sum Tulang
Transplantasi sum sum tulang dilakukan
untuk meminimalisasi kebutuhan seumur hidup penderita thalasemia terhadap
transfusi darah (Potts & Mandleco, 2007). Dengan transpalntasi sum sum
tulang maka jaringan sum sum tulang penderita diganti dengan jaringan sum sum
tulang pendonor yang cocok, yang biasanya saudara kandung atau orang tua
penderita. Transplantasi sum sum tulang ini sebaiknya dilakukan sedini mungkin,
yaitu ketika anak belum mengalami kelebihan kadar zat besi akibat transfusi
darah, karena tranfusi darah akan memperbesar kemungkinan untukn terjadinya
penolakan terhadap jaringan sum sum tulang donor. Transplantasi sumsum
tulang merupakan alternatif pengobatan yang dipercaya untuk kasus
thalasemia. Proses penatalaksaan
pengobatan thalasemia dengan transplantasi sumsum tulang ini, harus dengan
pertimbangan yang sangat matang karena mengandung banyak resiko (Indanah, 2010)
menyebutkan penatalaksanaan transplantasi sumsum tulang yang mempertimbangkan
tingkatan hepatosplenomegali, ada tidaknya fibrosis postal pada biopsi hati
secara efektifitas iron chelation therapy sebelum penatalaksanaan transplantasi. Terapi dengan
transplantasi sumsum tulang mampu menghilangkan kebutuhan pasien terhadap iron
chelation therapy.
d. Splenektomi
Splenektomi adalah terapi thalasemia
yang bertujuan mengurangi proses hemolisis. Splenektomi dilakukan jika
splenomegali cukup besar dan terbukti
adanya hipersplenisme serta dilakukan jika pasien berumur lebih dari 6 tahun karena resiko infeksi pasca
splenektomi (Indanah, 2010).
e. Cangkok
cord blood
Sama dengan transplantasi sum sum
tulang, namun stem sel yang digunakan diambil dari plasenta atau tali pusat
dari donor yang cocok. Donor cord blood ini tidak harus mempunyai hubungan
genetik yang dekat, dan mempunyai kemungkinan yang lebih kecil terhadp
penolakan (CAF & Linker, 2001 dalam Hockenberry & Wilson, 2009).
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
1.
PENGKAJIAN
A. Asal
Keturunan / Kewarganegaraan
Thalasemia banyak dijumpai pada
bangsa di sekitar laut Tengah (Mediteranial) seperti Turki, Yunani, dll. Di
Indonesia sendiri, thalasemia cukup banyak dijumpai pada anak, bahkan merupakan
penyakit darah yang paling banyak diderita.
B. Umur
Pada
penderita thalasemia mayor yang gejala klinisnya jelas, gejala telah terlihat
sejak anak berumur kurang dari 1 tahun, sedangkan pada thalasemia minor
biasanya anak akan dibawa ke RS setelah usia 4 tahun.
C. Riwayat
Kesehatan Anak
Anak
cenderung mudah terkena infeksi saluran pernapasan atas atau infeksi lainnya.
Ini dikarenakan rendahnya Hb yang berfungsi sebagai alat transport.
D. Pertumbuhan
dan Perkembangan
Seirng
didapatkan data adanya kecenderungan gangguan terhadap tumbang sejak masih
bayi. Terutama untuk thalasemia mayor, pertumbuhan fisik anak, adalah kecil
untuk umurnya dan adanya keterlambatan dalam kematangan seksual, seperti tidak
ada pertumbuhan ramput pupis dan ketiak, kecerdasan anak juga mengalami
penurunan. Namun pada jenis thalasemia minor, sering terlihat pertumbuhan dan
perkembangan anak normal.
E.
Pola Makan
Terjadi
anoreksia sehingga anak sering susah makan, sehingga BB rendah dan tidak sesuai
usia.
F.
Pola Aktivitas
Anak
terlihat lemah dan tidak selincah anak seusianya. Anak lebih banyak tidur/istirahat
karena anak mudah lelah.
G. Riwayat
Kesehatan Keluarga
Thalasemia
merupakan penyakit kongenital, jadi perlu diperiksa apakah orang tua juga
mempunyai gen thalasemia. Jika iya, maka anak beresiko terkena talasemia mayor.
H. Riwayat
Ibu Saat Hamil (Ante natal Core – ANC)
Selama
masa kehamilan, hendaknya perlu dikaji secara mendalam adanya faktor resiko
talasemia. Apabila diduga ada faktor resiko, maka ibu perlu diberitahukan
resiko yang mungkin sering dialami oleh anak setelah lahir.
I.
Data Keadaan Fisik Anak
Thalasemia
1) Keadaan
Umum
lemah
dan kurang bergairah, tidak selincah anak lain yang seusia.
2) Kepala
dan bentuk muka.
Anak
yang belum mendapatkan pengobatan mempunyai bentuk khas, yaitu kepala membesar
dan muka mongoloid (hidung pesek tanpa pangkal hidung), jarak mata lebar,
tulang dahi terlihat lebar.
3) Mata
dan konjungtiva
Pucat
dan kekuningan
4) Mulut
dan bibir
Lerlihat kehitaman
5) Dada
Pada
inspeksi terlihat dada kiri menonjol karena adanya pembesaran jantung dan
disebabkan oleh anemia kronik.
6) Perut
Terlihat
pucat dipalpasi ada pembesaran limpa dan hati (hepatospek nomegali)
7) Pertumbuhan
fisik
Lebih kecil daripada normal sesuai usia, BB di
bawah normal
8) Pertumbuhan
organ seks sekunder
Untuk
anak pada usia pubertas tidak tercapai dengan baik. Misal tidak tumbuh rambut
ketiak, pubis ataupun kumis bahkan mungkin anak tidak dapat mencapai tapa
odolense karena adanya anemia kronik.
9) Kulit
Warna
kulit pucat kekuningan, jika anak telah sering mendapat transfusi warna kulit
akan menjadi kelabu seperti besi. Hal ini terjadi karena adanya penumpukan zat
besi dalam jaringan kulit (hemosiderosis).
Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan
perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan penurunan konsistensi Hemoglobin
-
Tujuan:
Setelah
di lakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam , pasien mampu mempertahankan
perfusi jaringan adekuat ditandai Dengan Kriteria hasil : Nadi
perifer teraba,kulit hangat,tidak terjadi sianosis
-
Kriteria hasil :
a)
Tidak terjadi palpitasi
b)
Kulit tidak pucat
c)
Membran mukosa lembab
d)
Keluaran urine adekuat
e)
Tidak terjadi
mual/muntah dan distensil abdomen
f)
Tidak terjadi perubahan
tekanan darah
g)
Orientasi klien baik.
-
Intervensi
a.
Awasi tanda-tanda
vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/ membran mukosa, dasar kuku.
b.
Tinggikan kepala tempat
tidur sesuai toleransi (kontra indikasi pada pasien dengan hipotensi).
c.
Selidiki keluhan nyeri
dada, palpitasi.
d.
Kaji respon verbal
melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung.
e.
Catat keluhan rasa
dingin, pertahankan suhu lingkungan, dan tubuh hangat sesuai indikasi.
f.
Kolaborasi pemeriksaan
laboratorium, Hb, Hmt, AGD, dll.
g.
Kolaborasi dalam
pemberian transfusi.
h.
Awasi ketat untuk
terjadinya komplikasi transfusi.
-
Rasional
a)
Indikator umum status
sirkulasi dan keadekuatan sirkulasi
b)
Untuk mengetahui ststus
kesadaran pasien
c)
Untuk mensuplai
kebutuhan organ tubuh
2. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan.
-
Tujuan :
Setelah
dlakukan asuhan kep slama 1x24 jam diharapkan klien mampu mlakukan aktifitas
shari2 dgn kriteria hasil: anak bermain dan beristirahat dgan tnang srta dapat
mlakukan aktivitas esuai kemampuan
-
Intervensi :
a)
Kaji kemampuan pasien
untuk melakukan aktivitas, catat kelelahan dan kesulitan dalam beraktivitas.
b)
Awasi tanda-tanda vital
selama dan sesudah aktivitas.
c)
Catat respin terhadap
tingkat aktivitas.
d)
Berikan lingkungan yang
tenang.
e)
Pertahankan tirah
baring jika diindikasikan.
f)
Ubah posisi pasien
dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.
g)
Prioritaskan jadwal
asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat.
h)
Pilih periode istirahat
dengan periode aktivitas.
i)
Beri bantuan dalam
beraktivitas bila diperlukan.
j)
Rencanakan kemajuan
aktivitas dengan pasien, tingkatkan aktivitas sesuai toleransi.
k)
Gerakan teknik
penghematan energi, misalnya mandi dengan duduk.
-
Kriteria hasil :
Menunjukkan
penurunan tanda fisiologis intoleransi, misalnya nadi, pernapasan dan Tb masih
dalam rentang normal pasien.
-
Rasional :
a. Menentukan
kemampuan atau kebutuhan klien
b. Aktifitas
pgalihan dpat membantu anak mlakukan aktivitas sesuai kemampuan
c. Istirahat
yg cukup berguna untuk mempercepat pemulihan kemanpuan anak
3. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna
atau ketidakmampuan mencerna makanan/absorbsi nutrien yang diperlukan untuk
pembentukan sel darah merah normal.
-
Tujuan :
menunjukkan
pemahaman pentingnya nutrisi
-
Kriteria hasil :
a. Menunjukkan
peningkatan berat badan/ BB stabil.
b. Tidak
ada malnutrisi.
-
Intervensi:
a)
Pantau jumlah dan jenis
intake dan output pasien
b)
Timbang berat badan
klien
c)
Beri Health Education
tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
d)
Kolaborasi dengan ahli
gizi
e)
Berikan makanan yang
bergisi
f)
Berikan minuman yang
bergisi misalnya susu
g)
Beri makanan sedikit
tapi sering.
h)
Berikan suplemen atau
vitamin pada anak
i)
Berikan lingkungan yang
menyenangkan
-
Rasional :
a)
Untuk memenuhi
kebutuhan tubuh dan mempercepat pemuluhan
b)
untuk memenuhi
kebutuhan kalori
c)
merangsang nafsu makan
d)
memudahkan absorsi
makanan
e)
meningkatkan nafsu
makan
f)
Untuk mengetahui jenis
dan jumlah asupan nutrisi yang penting bagi pasien
g)
Membantu menentukan
keseimbangan nutrisi yang tepat
h)
Untuk membantu pasien
dan keluarga memahami pentingnya nutrisi bagi tubuh
i)
Untuk memberikan diet
yang adekuat sesuai dengan kebutuhan pasien yang mendukung proses penyembuhan.
4. Resiko
terjadi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sirkulasi dan neurologis.
-
Kriteria hasil :
a)
Kulit utuh.
-
Intervensi :
a)
Kaji integritas kulit,
catat perubahan pada turgor, gangguan warna, aritema dan ekskoriasi.
b)
Ubah posisi secara
periodik.
c)
Pertahankan kulit
kering dan bersih, batasi penggunaan sabun.
-
Rasional :
a)
Memberikan informasi
dasar tentang peneneman dan kemungkinan petunjuk tentang sirkulasi darah.
b)
Menurunkan risiko
infeksi infrak.
c)
Gerakan jaringan dibawa
dapat merubah posisi dan dapat mempengharui penyembuhan optimal.
d)
Perbaikan nutrisi akan
mempercepat penyembuhan luka pada anak
e)
Mengurangi jumlah Fe
dalam tubuh.
f)
Untuk mengimbangi
jumlah Fe yang tinggi dalam darah
5. Resiko
infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder tidak adekuat, penurunan Hb,
leukopenia atau penurunan granulosit.
-
Kriteria hasil :
a. Tidak
ada demam
b. Tidak
ada drainage purulen atau eritema
c. Ada
peningkatan penyembuhan luka
-
Intervensi :
a)
Pertahankan teknik
septik antiseptik pada prosedur perawatan.
b)
Dorong perubahan
ambulasi yang sering.
c)
Tingkatkan masukan
cairan yang adekuat.
d)
Pantau dan batasi
pengunjung.
e)
Pantau tanda-tanda
vital.
f)
Kolaborasi dalam
pemberian antiseptik dan antipiretik.
6. Kurang
pengetahuan tentang prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
interpretasi informasi dan tidak mengenal sumber informasi.
-
Kriteria hasil :
a.
Menyatakan pemahaman
proses penyakit, prosedur diagnostika rencanapengobatan.
b.
Mengidentifikasi faktor
penyebab.
c.
Melakukan tindakan yang
perlu/ perubahan pola hidup.
-
Intervensi :
a)
Berikan informasi
tentang thalasemia secara spesifik.
b)
Diskusikan kenyataan
bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya thalasemia.
c)
Rujuk ke sumber
komunitas, untuk mendapat dukungan secara psikologis.
d)
Konseling keluarga
tentang pembatasan punya anak/ deteksi dini keadaan janin melalui air ketuban
dan konseling perinahan: mengajurkan untuk tidak menikah dengan sesama
penderita thalasemia, baik mayor maupun minor.
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Thalasemia
adalah penyakit anemia hemolitik yang terjadi secara genetik dimana usia
eritrosit menjadi lebih pendek yaitu kurang dari 100 hari. Thalasemia
diturunkan oleh salah satu ataupun kedua orang tua membawa gen thalasemia. Pada
anak dengan thalasemia membutuhkan terapi transfusi darah, hal ini disebabkan
karena penderita thalasemia mengalami kelainan pada eritrosit yang menyebabkan
dirinya membutuhkan transfusi. Namun transfusi juga dapat menimbulkan
penimbunan zat besi pada organ tubuh yang lain, sehingga pada pasien thalasemia
juga diberikan terapi kelasi besi untuk mengurangi zat besi yang ada dalam
darah.
2. Saran
a. Orang
Tua
Peran orang tua sangat penting bagi
penderita thalasemia karena penderita thalasemia membutuhkan dukungan moral
karena penderita thalasemia mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan, juga
karena kelemahan yang mereka derita yang menyebabkan penderita tidak dapat
beraktifitas seperti teman sebayanya. Namun akan lebih baik jika sebelum
menikah pasangan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan laboratorium untuk
mengetahui apakah salah satu ataupun keduanya membawa gen thalasemia.
b. Tenaga
Kesehatan
Untuk tenaga kesehatan diharapkan dapat
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan terutama tentang thalasemia. Sehingga
dapat mengikuti trend issue terbaru tentang thalasemia terutama mengenai
pengobatan pada pasien thalasemia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar